Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Fenomena Childfree Meningkat, BKKBN Paparkan Penyebab dan Solusi di Kuliah Umum Universitas Bengkulu

Skintific

BENGKULU – Fenomena childfree di Indonesia terus meningkat dan menarik perhatian publik. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 menunjukkan bahwa 8,2 persen atau sekitar 71.000 perempuan usia subur (15–49 tahun) menyatakan memilih untuk tidak memiliki anak. Angka ini naik dari 6,5 persen pada 2021 dan 7 persen pada 2019, sehingga menandakan perubahan pola pikir generasi muda terkait keluarga dan masa depan.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian saat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji menyampaikan kuliah umum di Universitas Bengkulu, Jumat (14/11/2025). Dalam sesi dialog, beberapa mahasiswa mengaku terdampak fenomena ini dan mulai mempertanyakan kesiapan mereka untuk menjadi orang tua.

Skintific

Baca Juga : Bulog Rejang Lebong salurkan BPP beras dan minyak goreng

Seorang mahasiswi menuturkan bahwa ia telah memikirkan pilihan childfree sejak SMA. Ia merasa khawatir tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial anaknya kelak.
“Untuk punya anak itu perlu finansial yang kuat. Saya takut tidak mampu menyekolahkan anak saya nanti,” ujarnya saat menjawab pertanyaan Wihaji dalam kuliah umum di GSG Universitas Bengkulu.

RRI.co.id - Praktisi Beberkan Dampak Kesehatan Mental dari Fenomena ' Childfree'

Menanggapi hal itu, Wihaji menjelaskan bahwa childfree merupakan pilihan sadar pasangan atau individu untuk tidak memiliki anak, baik melalui kelahiran biologis maupun adopsi. Ia menyebut fenomena ini muncul karena tiga faktor utama, yaitu kecemasan psikologis, kecemasan ekonomi, dan kekhawatiran terkait kesehatan fisik.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Untuk menjawab kecemasan tersebut, BKKBN menjalankan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak). Melalui program ini, pemerintah menyediakan fasilitas penitipan dan pengasuhan anak bagi keluarga yang khawatir tidak mampu membagi waktu antara pekerjaan dan tanggung jawab sebagai orang tua.
“Intinya negara hadir. Pemerintah hadir. Tamasya hadir untuk menjawab kecemasan masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga :  Relokasi Pedagang Jalan KZ Abidin Gratis Tanpa Biaya

Meski menghormati pilihan childfree sebagai keputusan individu, Wihaji tetap berharap generasi muda tidak takut menjalani dinamika kehidupan berkeluarga. Ia mengajak mahasiswa melihat peran orang tua sebagai perjalanan penuh pembelajaran, bukan sekadar beban ekonomi.

Selain itu, Wihaji mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi fondasi penting dalam perkembangan generasi penerus bangsa. Ia berharap anak muda mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menetapkan pilihan jangka panjang terkait childfree.

Skintific